Dokumen

Berita Deptan

foto beritaJAKARTA – Hari Priyono Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian mengapresiasi kehadiran para Sekretaris SKPD dan pejabat yang menangani bidang perencanaan Lingkup Pertanian dari seluruh Propinsi. Saya mengapresiasi kerjasama yang baik dalam upaya Kita meningkatkan kinerja pembangunan pertanian yang semakin membaik dari tahun-tahun sebelumnya.

Perbaikan tersebut dapat terlihat dari produksi komoditas strategis padi, jagung, cabai, bawang merah dan daging sapi/kerbau. Program Upaya Khusus (UPSUS) kita telah berdampak terhadap produksi pangan berdasarkan Angka Ramalan II (ARAM II) BPS 2016. Produksi Padi 79,1 juta ton, naik 4,97 % dibandingkan tahun 2015, produksi jagung  23, 2 juta ton naik 18,10 % dibanding dengan produksi tahun 2015 sebesar 19,6 juta ton sedang produksi Bawanh merah mencapai 1,3 juta ton naik 5,74 %, Cabai mencapai 2,1 juta ton naik 9,95 % dan Daging Sapi/Kerbau naik 3,7 % yakni 0,56 juta ton dibanding produksi tahun 2015 0,54 juta ton.

Seluruh capaian tersebut diatas tentu hasil dari sinergitas yang semakin baik dari seluruh pemangku kepentingan. Tahun anggaran 2017 yang baru kita mulai, saya meminta saudara sekalian melakukan percepatan pelaksanaan kegiatan dengan langkah-langka konkrit pembentukan Satker dan percepatan pelaksanaan pengadaan barang dan jasa 2017 serta pemahaman pedum pelaksanaan teknis kegiatan 2017.

Rapat Kerja Nasional Pembangunan Pertanian 2017 yang baru saja kita laksanakan juga merealisasikan percepatan pengadaan barang dan jasa 2017 senilai Rp. 31,03 Triliun atau 74% dari total nilai pengadaan barang dan jasa TA. 2017.

Rapat Koordinasi Tehknis Perencanaan Pembangunan Pertanian (Rakortek) 2018 kita laksanakan paralel dengan Rakortek yang dilakukan BAPPENAS dengan tujuan untuk mencermati arah Perencanaan Pembangunan Pertanian 2018 dan di fokuskan pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2018 yaitu Peningkatan Infrastruktur dan Perluasan Investasi.

Hari Priyono juga mengingatkan semua Peserta Rakoortek 2018 agar mengingat dan membuat acuan perencanaan sesuai arahan Presiden RI pada Rakernas Kementerian Pertanian 5 Januari 2017 di Bidakara yakni Pembangunan  sebanyak 30.000  Embung, Pengembangan Komoditas Strategis berdasarkan Wilayah (Clustering)  dan Korporasi Petani serta Pemanfaatan IT untuk memasarkan Produk Petani.

Hari Priyono pada akhir  arahannya meminta seluruh peserta untuk dapat fokus dengsn target pembangunan pertanian 2018 yaitu “Pembangunan dan Perbaikan Jaringan Irigasi yang bersinergi dengan  Kementerian PUPR, Perbaikan dan Pergantian Varietas Unggul serta Implementasi Pembangunan Kawasan Komoditas Strategis”.

Logo Kementerian

Hadapi MEA Balai Proteksi Kembangkan Pengendalian OPT Hayati

Kepala BalaiSenin, 25 Januari 2016. Pengembangan pengendalian  Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) hayati meliputi semua jenis organisme seperti nematoda, protozoa, cendawan, dan lain-lain yang terkait dengan sistem pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).

Prinsipnya bahwa pengembangan pengendalian OPT sesuai dengan UU Nomor 12 Tahun 2012 tentang Budidaya Tanaman, yaitu Pengendalian hama harus menuju pada pengendalian hama yang ramah lingkungan atau Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

Demikian penjelasan Kepala Balai Proteksi Pertanian dan Peternakan Dinas Pertanian Provinsi Maluku, Ir. Umar Poulhaupessy, M.Si.

Dikatakan, Balai Proteksi saat ini mendorong untuk lebih lagi mengembangkan sistem pertanian yang ramah lingkungan untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), terutama kepada para petani diberikan pemahaman, sosialisasi, pengetahuan, ketrampilan, terkait dengan pertanian yang ramah lingkungan yang tidak mengurangi produktifitas.

Sehingga secara perlahan para petani bisa meninggalkan sistem pertanian yang menggunakan pupuk kimia agar bebas dari residu, akibat dari penggunaan pupuk kimia maupun pestisida kimia yang berlebihan, menuju pertanian yang ramah lingkungan menghadapi MEA.

Ditambahkan oleh Kepala Balai, “Jika petani kita hanya bertahan dengan penggunaan pupuk kimia maka tentu kita tidak bisa bersaing dengan produk pertanian dari luar, karena masyarakat moderen yang punya ekonomi baik cenderung mengkonsumsi produk-produk yang bebas residu,”.

Untuk itu, tahun 2016 ini Balai Proteksi akan melakukan Pilot Project di Pulau Buru sekaligus mendorong Dinas Pertanian setempat untuk mencanangkan salah satu kecamatan atau desa yang menggunakan teknologi ramah lingkungan, baik untuk pengendalian hamanya maupun penggunaan pupuk bagi tanaman dan selanjutnya akan dikembangkan pada daerah-daerah sentra tanaman pangan dan hortikultura seperti di Pulau Seram.

Untuk merubah perilaku para petani terhadap hal ini dibutuhkan waktu yang cukup lama. Walaupun demikian Balai Proteksi tetap akan mendorong kemandirian petani agar tidak selalu tergantung kepada pemerintah.

Demi mensukseskan hal ini maka seluruh stakeholder di lapangan akan dilibatkan, termasuk Pemerintah Daerah Kabupaten untuk menuju pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Harapannya, program ini dapat dilaksanakan dan sukses serta didukung oleh berbagai stakeholder untuk menghadapi MEA agar produk pertanian kita tidak kalah bersaing dengan produk dari luar negeri.

Logo Kementerian

BP3M

Balai Proteksi Pertanian dan Peternakan Maluku (BP3M)

Kegiatan pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) merupakan bagian dari sistem budidaya tanaman yang bertujuan untuk menurunkan kehilangan hasil akibat serangan OPT menjadi seminimal mungkin, sehingga diperoleh kualitas dan kuantitas produksi yang baik.

Sebagai contoh kegiatan pengendalian dini (pengendalian pra tanam) merupakan pengendalian yang efektif dalam upaya pengendalian populasi atau tingkat serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) sehingga mencegah kerugian secara ekonomis.