Hadapi MEA Balai Proteksi Kembangkan Pengendalian OPT Hayati

Logo Kementerian

Kepala BalaiSenin, 25 Januari 2016. Pengembangan pengendalian  Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) hayati meliputi semua jenis organisme seperti nematoda, protozoa, cendawan, dan lain-lain yang terkait dengan sistem pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).

Prinsipnya bahwa pengembangan pengendalian OPT sesuai dengan UU Nomor 12 Tahun 2012 tentang Budidaya Tanaman, yaitu Pengendalian hama harus menuju pada pengendalian hama yang ramah lingkungan atau Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

Demikian penjelasan Kepala Balai Proteksi Pertanian dan Peternakan Dinas Pertanian Provinsi Maluku, Ir. Umar Poulhaupessy, M.Si.

Dikatakan, Balai Proteksi saat ini mendorong untuk lebih lagi mengembangkan sistem pertanian yang ramah lingkungan untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), terutama kepada para petani diberikan pemahaman, sosialisasi, pengetahuan, ketrampilan, terkait dengan pertanian yang ramah lingkungan yang tidak mengurangi produktifitas.

Sehingga secara perlahan para petani bisa meninggalkan sistem pertanian yang menggunakan pupuk kimia agar bebas dari residu, akibat dari penggunaan pupuk kimia maupun pestisida kimia yang berlebihan, menuju pertanian yang ramah lingkungan menghadapi MEA.

Ditambahkan oleh Kepala Balai, “Jika petani kita hanya bertahan dengan penggunaan pupuk kimia maka tentu kita tidak bisa bersaing dengan produk pertanian dari luar, karena masyarakat moderen yang punya ekonomi baik cenderung mengkonsumsi produk-produk yang bebas residu,”.

Untuk itu, tahun 2016 ini Balai Proteksi akan melakukan Pilot Project di Pulau Buru sekaligus mendorong Dinas Pertanian setempat untuk mencanangkan salah satu kecamatan atau desa yang menggunakan teknologi ramah lingkungan, baik untuk pengendalian hamanya maupun penggunaan pupuk bagi tanaman dan selanjutnya akan dikembangkan pada daerah-daerah sentra tanaman pangan dan hortikultura seperti di Pulau Seram.

Untuk merubah perilaku para petani terhadap hal ini dibutuhkan waktu yang cukup lama. Walaupun demikian Balai Proteksi tetap akan mendorong kemandirian petani agar tidak selalu tergantung kepada pemerintah.

Demi mensukseskan hal ini maka seluruh stakeholder di lapangan akan dilibatkan, termasuk Pemerintah Daerah Kabupaten untuk menuju pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Harapannya, program ini dapat dilaksanakan dan sukses serta didukung oleh berbagai stakeholder untuk menghadapi MEA agar produk pertanian kita tidak kalah bersaing dengan produk dari luar negeri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

CAPTCHA